Pemodelan Rekayasa Berkelanjutan

Melangkah ringan, meninggalkan jejak hijau

Tiga kajian keberlanjutan dari pesisir, bangunan, hingga industri logam: apa yang dirancang, apa yang terjadi di lapangan, dan pelajaran yang bisa dibawa pulang untuk Indonesia.

GULIR KE BAWAH ↓
Kampanye Kami

Empat langkah, satu arah

Empat fokus kampanye yang menghubungkan kajian kami: sampah pesisir, bangunan rendah karbon, logam tanpa karbon, dan literasi keberlanjutan.

Klik logo untuk membaca selengkapnya.

Siapa Kami

Jejak Hijau

Jejak Hijau adalah ruang belajar tiga mahasiswa program doktor: dua dari Arsitektur Universitas Gadjah Mada dan satu dari Teknik Kimia. Namanya berangkat dari gagasan jejak ekologis: setiap ruang yang dibangun, setiap sampah yang dibuang, dan setiap logam yang dilebur meninggalkan bekas pada lingkungan. Kami menelusuri bekas itu agar langkah berikutnya bisa lebih ringan.

  1. Bangunan rendah karbonGreen building sebagai jalur mitigasi dan adaptasi iklim.
  2. Metalurgi ekstraktif bersihPlasma hidrogen sebagai pengganti reduktor karbon.
  3. Sampah pesisirKonsep zero waste UGM 2013 sebagai fondasi pengembangan Pantai Baru Pandansimo.
  4. Literasi keberlanjutanRujukan yang dapat diverifikasi dan dipakai ulang.
Dampak Kami

Jejak dalam angka

3artikel lintas disiplinarsitektur · pesisir · metalurgi
46sumber rujukan dalam tiga artikellihat Pustaka
34%emisi CO₂ global dari bangunan dan konstruksiUNEP & GlobalABC, 2025
9,5%emisi gas rumah kaca global dari sektor logam ekstraktifSatritama et al., 2024
77%reduksi volume sampah daun cemara lewat pengomposan, hasil uji risetBooklet FT UGM, 2013

Angka ini berasal dari literatur yang kami kaji, bukan klaim dampak kegiatan kami sendiri.

Ikuti perjalanan kami

Tonton kajian kami di YouTube